Gaya Hidup
January 19, 2009 by langgeng777
Minggu sore suasana kota ini cerah, ngga seperti biasanya hujan. Hujan nya pun unik, hujan sebentar terus setelah beberapa saat reda. Atau kebalikanya hujan deras cukup lama, namun hujan nya tidak merata antara daerah satu dengan dareah yang lainya. Mungkin kah ini akibat dari global warming, entahlah.
Di akhir pekan ini ngga ada kegiatan sama sekali, selain lagi libur masa kuliah juga ngga ada kegiatan lainya. Paling waktu habis digunakan di depan layar pc dan televisi. Menurut penelitian orang nganggur banyak menghabiskan waktunya di depan televisi. Menghabiskan waktu di depan layar pc dan televisi merupakan salah satu life style (gaya hidup).
Gaya hidup adalah bagaimana cara seseorang untuk hidup, menghabiskan waktu dan uangnya. Ada yang suka travelling, pergi ke mall, atau cukup berdiam diri dirumah adalah salah satu gaya hidup. Dan sebenarnya gaya hidup tidak selalu mencerminkan diri seseorang, tergantung persepsi kita melihat orang tersebut.
Misalnya ada seseorang yang suka makan di warung warung pinggir jalan, nah gaya hidup orang tersebut bisa dibilang sederhana, tapi belum tentu dia orang yang sederhana lho. Bisa saja dia orang kaya namun dia menganut gaya hidup yang sederhana. Atau sebalik nya yaitu gaya hidup hedonis, ambil contoh saja akhri-akhir ini gempar berita soal syekh puji, dia suka membeli mobil mobil mewah itu termasuk gaya hidup hedonis, dan juga memang karena dia kaya, ngga masalah.
Gaya hidup mengikuti tren juga sedang marak saat ini. Misalanya sering aku lihat remaja kita saat ini berpenampilan celana ketat, pake kaos hitam, ikat pinggang, sepatu kets, rambut berponi. Mereka tampil demikian agar mirip dengan band band emo luar negri, padahal mereka ngga sadar penampilan seperti itu mirip dengan band band pop mainstream dari Indonesia.
Baru tadi pagi saya baca sebuah artikel di surat kabar tentang tren yang mudah sekali meresap dalam gaya hidup kita. Salah satunya ialah saat ini remaja remaja dari non ibukota, sekarang sudah latah memakai bahasa ke-jakarta an, ‘gue-elu’. Mereka mati matian mengadaptasi bahasa ini agar terlihat mengikuti tren dan gaul.
Namun seperti yang diungkapkan tadi, bahwa apa yang dilakukan dan dikerjakan belum tentu mencerminkan diri seseorang atau menunjukan identitas orang tersebut. Bisa saja orang yang berpenampilan (yang katanya) emo malah ngga tau sama sekali music emo, bahkan munkin dia malah lebih suka music dangdut, ada juga.
Langgeng, 20 Januari 2009